Assalamualaikum

Laman

Kamis, 01 Juli 2010

istri-istri teladan


Isteri-Isteri Teladan

Seorang isteri bukanlah semata-mata orang kedua. Dia adalah satu pribadi. Satu pribadi yang memiliki level kepentingannya sendiri di dalam apa yang kita sebut keluarga. Sama halnya dengan anak, adik, kakak, ayah, dan suami. Itu makanya, tulisan ini tidak diberi judul "Isteri-isteri Nabi", misalnya. Sebab mereka bukanlah sekadar "serombongan wanita" yang menjadi isteri seorang Nabi. Maksudnya, sebagai individu, masing-masing wanita ini memang punya mutu. Soal kemudian mereka diperisteri oleh Muhammad, figur paling bermutu sepanjang sejarah manusia, itu soal kedua. Nah, soal kedua inilah yang lantas memahatkan nama mereka di hati ummat Islam hingga jaman yang akan datang. Selamat menikmati profil-profil ringkas wanita-wanita bermutu ini. SITI KHADIJAH (Ummul Mukminin pertama). Lahir di Mekkah tahun 556, Khadijah adalah wanita pertama pemeluk Islam. Ketika disunting Rasulullah, ia seorang janda berusia 40 tahun. Berasal dari keluarga terpandang dan ia sendiri menjadi orang terkaya di kotanya. Sedangkan Rasulullah masih muda, berusia sekitar 25 tahun dan dari keluarga miskin. Keinginan perkawinan itu datang dari pihak Khadijah. Setelah menikah, semua kekayaan Khadijah dipergunakan sepenuhnya untuk mendukung dakwah Rasulullah. Juga, karena kewibawaannya di hadapan suku Quraisy, ia pun menjadi pelindung Rasulullah dari ancaman orang-orang Quraisy. Rasul sangat mencintai Khadijah. Meski Khadijah sudah meninggal beberapa tahun, Rasul masih tetap mengenang. Sehingga pernah istrinya yang lain --Asyiah-- memprotes cemburu. "Demi Allah, tidak ada ganti yang lebih baik dari dia, yang beriman padaku saat semua orang ingkar, yang percaya padaku ketika semua mendustakan, yang mengorbankan hartanya saat semua berusaha mempertahankannya;... dan darinyalah aku mendapatkan keturunan," kata Rasul di hadapan Aisyah. Dari Khadijah, Nabi mendapat karunia 7 anak: 3 putra dan 4 putri. Yang putra bernama al-Qasim, Abdullah, dan (Thaher, meninggal ketika masih bayi). Sedangkan yang putri: Zainab, Ruqayyah, Ummu Kalsum dan Fatimah. Sebelum dengan Nabi, Khadijah pernah menikah dengan Abu Halal an-Nabbasy bin Zurarah. Dari Abu Halal, Khadijah mendapat seorang anak. Setelah Abu Halal meninggal, Khadijah menikah lagi dengan Atiq bin Abid al-Makhzumi. Sampai Atiq meninggal, mereka tidak dikarunia anak. Ummul mukminin al-Kubra (Ibu Kaum Mukminin yang Agung) ini sendiri meninggal pada 619 H. SAUDAH BINTI ZUM'AH (Ummul Mukminin kedua). Setelah Khadijah meninggal, Nabi baru bersedia menikah lagi. Saudah juga seorang janda. Suaminya, as-Sakran bin Amru al-Amiri, meninggal ketika hijrah ke Habsyi (Ethiopia). Saudah sangat berduka ditinggal suaminya itu. Untuk mengobati duka itu, atas saran seorang wanita Khaulah binti Hakim As, Rasul lantas meminang Saudah. Meski Rasul juga menyayangi Saudah, tetapi ternyata hatinya tidak mampu mencintai wanita ini. Karena merasa berdosa, Rasul lantas ingin menceraikan Saudah. Tapi apa kata Saudah, "Biarlah Rasulullah aku begini. Aku rela malamku untuk Aisyah (Ummul Mukminin ke tiga Nabi). Aku sudah tidak membutuhkan lagi." Saudah wafat dimasa kekhalifahan Umar bin Khaththab hampir berakhir. 'AISYAH BINTI ABU BAKAR (Ummul Mukminin ketiga). Satu-satunya istri Nabi yang masih gadis, ketika dinikahi Nabi. Putri sahabat Nabi, Abu Bakar ash-Shiddiq ini dilahirkan 8 atau 9 tahun sebelum Hijrah. Menikah berumur 6 tahun, namun baru 3 kemudian hidup serumah dengan Nabi. Budaya Arab, seorang laki-laki berumur menikahi seorang gadis belia, hal yang biasa. Salah satu sebabnya, wanita Arab fisiknya cenderung bongsor dibanding usianya. Setelah Khadijah, Aisyahlah istri yang paling dekat dengan Nabi. Cantik dan cerdas, begitu penampilannya. Karena kedekatan dan kecerdasannya itu, setelah Nabi wafat, banyak hadits yang ia riwayatkan. Terutama soal wanita dan keluarga. Ada 1.210 hadits yang diriwayatkan Aisyah, di antaranya 228 terdapat dalam hadits shahih Bukhari. Selama mendampingi Nabi, Aisyah pernah dilanda fitnah hebat. Ceritanya, pada peperangan melawan Bani Mustaliq, berdasarkan undian di antara istri-istri Nabi, Aisyah terpilih mendampingi Nabi. Dalam perjalanan pulang, rombongan istirahat pada suatu tempat Aisyah turun dari sekedupnya (sejenis pelana yang beratap di atas punuk unta), karena ada keperluan. Kemudian kembali. Tetapi ada yang ketinggalan, ia kembali lagi untuk mencarinya. Sementara itu, rombongan berangkat dengan perkiraan bahwa Aisyah sudah ada di sekedupnya. Aisyah tertinggal. Ketika sahabat Nabi, Safwan bin Buattal menemuinya, Aisyah sudah tertidur. Akhirnya, ia pergi diantar Safwan. Peristiwa ini kemudian dimanfaatkan orang-orang kafir untuk menghantam Nabi. Disebarkan fitnah, Aisyah telah serong. Fitnah ini benar-benar meresahkan ummat. Bahkan Nabi sendiri sempat goyah kepercayaannya pada Aisyah. Sehingga turunlah wahyu surat An Nuur ayat 11. Inti wahyu itu, menegur Nabi dan membenarkan Aisyah. Aisyah wafat pada malam Selasa, 17 Ramadhan 57 H, dalam usia 66 tahun. Shalat jenazahnya diimami oleh Abu Hurairah dan dimakamkan di Ummahat al-Mukminin di Baqi (sebelah Masjid Madinah) bersama Ummul Mukminin lainnya. HAFSAH BINTI UMAR (Ummul Mukminin keempat). Hafsah adalah janda Khunais bin Huzafah, sahabat Rasul yang meninggal ketika perang Uhud. Rasul menikahi Hafsah, kerena kasihan kepada Umar bin Khattab --ayah Hafsah. Hafsah sedih ditinggal suaminya, apalagi usianya baru 18 tahun. Melihat kesedihan itu, Umar berniat mencarikan suami lagi. Pilihannya jatuh kepada sahabatnya yang juga orang kepercayaan Rasul, yakni Abu Bakar. Tapi ternyata Abu Bakar hanya diam saja. Dengan perasaan kecewa atas sikap Abu Bakar itu, Umar menemui Usman bin Affan, dengan maksud yang sama. Ternyata Usman juga menolak, karena dukanya atas kematian istrinya, belum hilang. Istri Usman adalah putri Rasul sendiri, Ruqayyah. Lalu Umar mengadu kepada Rasul. Melihat sahabatnya yang marah dan sedih itu, Rasul ingin menyenangkannya, lantas berkata "Hafsah akan menikah dengan orang yang lebih baik daripada Usman, dan Usman akan menikah dengan orang yang lebih baik dari Hafsah." Tak lama kemudian, Hafsah dinikahi Rasul, sedang Usman dengan Ummu Kalsum, putri Rasul juga. Suatu malam di kamar Hafsah, Rasul sedang berdua dengan istrinya yang lain, Maria. Hafsah cemburu berat, lantas menceritakan kepada Aisyah. Aisyah kemudian memimpin istri-istri yang lain, protes kepada Rasul. Rasul sangat marah dengan ulah istri-istrinya itu. Saking marahnya, beliau tinggalkan mereka selama satu bulan. Terhadap kasus ini, kemudian Allah menurunkan wahyu surat at-Tahrim ayat 1-5. Sejarah mencatat, Hafsahlah yang dipilih di antara istri-istri Rasul untuk menyimpan naskah pertama al-Qur'an. Hafsah wafat pada awal pemerintahan Mu'awiyah bin Abu Sufyan, dimakamkan di Ummahat al-Mu'minin di Baqi. ZAINAB BINTI KHUZAIMAH (Ummul Mukminin kelima). Di antara isteri-isteri Rasul, Zainablah yang wafat lebih dulu, setelah Khadijah. Para sejarawan tidak banyak tahu tentang Zainab, termasuk latar belakangnya. Tapi yang jelas ia juga seorang janda saat dinikahi Rasul. Hidupnya bersama Rasul, hanya singkat. Antara 4 sampai 8 bulan. Zainab terkenal dengan julukan Ummul Masaakiin, karena kedermawanannya terhadap kaum miskin. Zainab meninggal, ketika Rasul masih hidup. Dan Rasul sendiri menshalati jenazahnya. Zainablah yang pertama kali dimakamkan di Baqi. UMMU SALAMAH (Ummul Mukminin keenam). Nama aslinya, Hindun binti Abu Umayah bin Mughirah. Suaminya bernama Abdullah bin Abdul Asad. Abdullah atau dipanggil Abu Salamah, meninggal ketika perang melawan Bani As'ad yang akan menyerang Madinah. Sebelum meninggal Abu Salamah berwasiat, agar istrinya ada yang menikahi dan orang itu harus lebih baik dari dirinya. Abu Bakar ingin melaksanakan wasiat itu, dengan meminang Ummu Salamah tapi ditolak. Demikian pula Umar bin Khattab, juga ditolak. Tiada lain, Rasulullah sendiri akhirnya yang maju. Dan diterima. Ketika itu umur Ummu Salamah hanya beberapa tahun dibawah Rasul dan sudah beranak empat. Sejarah mencatat, surat at-Taubah 102 turun tatkala Rasul sedang berbaring di kamarnya Ummu Salamah. Dalam perjanjian Hudaibiyah, Umum Salamah punya peranan penting. Banyak sahabat Rasul yang protes terhadap perjanjian itu, termasuk Umar. Usai perjanjian ditandatangani, Rasul memerintahkan para sahabat agar menyembelih ternak dan memotong rambut. Namun tidak ada yang melakukan seruan itu. Rasul mengulangnya sampai tiga kali, tapi tetap tidak ada yang menyahut. Dengan kesal dan marah kembali ke kemahnya. Ummu Salamah lantas usul, agar Rasul jangan hanya bicara, langsung saja contoh. Benar juga, Rasul lantas keluar menyembelih ternak dan menyuruh pembantu memotong rambut beliau. Kaum muslimin kemudian banyak yang mengikuti rindakan Rasul ini, karena takut dikatakan tidak mengikuti sunnah Rasul. Ummu Salamah banyak mengikuti peperangan. Ia hidup sampai usia lanjut. Ia wafat setelah peristiwa Karbala, yakni terbunuhnya Husein, cucu Rasul. Ummu Salamah adalah Ummahatul Mukminin yang paling akhir wafatnya. ZAINAB BINTI JAHSY (Ummul Mukminin ketujuh). Zainab adalah bekas istri Zaid bin Haritsah yang telah bercerai. Sedang Zaid adalah anak angkat Rasul. Zainab sendiri dengan Rasul juga masih bersaudara. Karena wanita ini adalah cucu Abdul Muthalib, kakek Rasul (baca Sejarah, Sahid, April l997). Meski perkawinan Zainab dengan Nabi jelas-jelas perintah Allah, tapi gosip menyelimuti perkawinan mereka. Wahyu yang memerintah Nabi agar menikahi Zainab itu ada pada al-Ahzab 37. Dari perkawinan inilah kemudian turun hukum-hukum pernikahan, termasuk perintah hijab (al-Ahzab 53). JUWAIRIAH BINTI HARITS (Ummul Mukminin kedelapan). Nama sebenarnya adalah Barrah binti Harits bin Abi Dhirar, putri pimpinan pemberontak dari suku Bani Musthalaq, Harits bin Dhirar. Setelah menikah dengan Nabi berganti nama Juwairiah. Sebelumnya, Juwairiah adalah tawanan perang. Riwayat selanjutnya tak banyak diketahui oleh para sejarawan. Hanya ia meninggal dalam usia 65 tahun, di Madinah, pada masa Muawiyah. Dishalatkan dengan Imam Amir Madinah yaitu Marwan bin Hakam. SOFIYAH BINTI HUYAI (Ummul Mukminin kesembilan). Satu-satunya istri Nabi dari golongan Yahudi ya Sofiyah ini. Sofiyah masih keturunan Nabi Harun dan ibunya Barrah binti Samual. Meski usianya baru 17 tahun, tapi ia sudah dua kali menikah. Pertama dengan Salam bin Masyham, dan kedua dengan Kinanah bin Rabi bin Abil Haqiq, pemimpin benteng Qumus, benteng terkuat di Khaibar, markasnya kaum Yahudi. Dikawininya Sofiyah itu, Nabi sebenarnya berharap agar kebencian kaum Yahudi kepada kaum muslimin dapat diredam. Sofiyah wafat tahun 50 Hijriah, pada zaman Mua'wiyah. Dimakamkan di Baqi. UMMU HABIBAH BINTI SOFYAN (Ummul Mukminin ke sepuluh). Nama sebenarnya Ramlah binti Abi Sofyan. Ia memang putri pemimpin Quraisy, Abu Sofyan, musuh bebuyutan Islam itu. Habibah adalah nama putri Ramlah hasil perkawinan dengan Ubaidillah, saudara Ummul Mukminin Zainab ra. Tentu saja Ramlah telah masuk Islam. Berdua dengan suaminya, ia kemudian hijrah ke Habsyi (Afrika). Celakanya, sesampai di Habsyi suaminya murtad, masuk Nasrani. Selanjutnya, Ramlah dinikahi Rasul. Mendengar ini, betapa marahnya Abu Sofyan, putrinya sendiri masuk Islam dan sekarang kawin dengan musuh besarnya, Muhammad Saw. Sampai akhir hayatnya, Ramlah tetap membela Islam dan suaminya. Ia wafat pada usia 60 tahun. Juga dimakamkan di Baqi. MARIAH AL QIBTIYAH (Ummul Mukminin kesebelas). Mariah sebelumnya adalah budak kiriman dari raja Mesir. Kemudian diangkat derajatnya dengan dijadikan istri Nabi. Setelah Khadijah, Mariah satu-satunya istri Nabi yang melahirkan anak. Namanya Ibrahim bin Muhammad. Cuma, sayangnya Ibrahim meninggal. Rasul sangat sedih dengan kematian putranya itu. Mariah wafat pada tahun 16 hijriah. Dishalatkan oleh Amir Mukminin Umar bin Khattab. MAIMUNAH BINTI AL HARITS (Ummul Mukminin kedua belas). Nama aslinya adalah Barrah binti Harits. Setelah menikah dengan Nabi, diganti dengan Maimunah. Perkawinan ini --Barrah ketika itu janda berumur 26 tahun-- sesungguhnya atas permintaan paman Nabi, yakni Abbas bin Abdul Muthalib. Barrah sendiri adalah adik dari isteri Abbas. Tidak banyak yang diketahui sejarah Barrah. Yang jelas ia wafat pada tahun 51 hijriah.

Tidak ada komentar: